Sunday, July 26, 2015

Review Film : FILOSOFI KOPI MOVIE

FILOSOFI KOPI MOVIE ( @filkopmovie )
Story :  Dewi Lestari
Directed : @anggasasongko

Walaupun udah lama tapi gapapa dan ga mama ya dari pada engga sama sekali. Dan sekalian ngasih info lah buat yang belum nonton kalo film Indonesia ga hanya film horror esek esek aja, tapi ada juga Lo salah satu film kece buatan sineas Indonesia yang isinya tentang kopi tapi dibawakan dengan cara yang asik.

Sudah lama gue ngincer film ini soalnya gencar banget promosinya di sosmed, dan di garap ama sutradara yang gue percaya, setelah sukses menggarap "Cahaya Dari Timur" yaitu bang @anggasasongko . Angga Dwimas Sasongko mendapat penghargaan atas filmnya Cahaya Dari Timur : Beta Maluku.

Gue berkesempatan nonton premiere di bioskop Banjarmasin, dan walaupun film ini keren dan hari pertama diputar, bangku masih banyak yang kosong, entahlah mungkin bagi kebanyakan orang mungkin film horror esek esek lebih esek ( asik ). walaupun judulnya ada kopinya tapi di film ini ga berpusat pada Kopi doang, ada persahabatan, hubungan keluarga, persaingan. Dan bagian yang paling gue suka adalah scene kebun kebun kopi yang mau digantikan ama perkebunan sawit, yang emang lagi musim didaerah Gue perkebunan sawit.

Di film ini ada 3 tokoh sentral yaitu Ben sebagai Barista yang udah gila banget soal kopi, Lalu ada sabahatnya Jody seorang chinise yang hebat dagang dan tentunya otak dibalik kedai Filosofi Kopi dan El seorang Q Grader.

Ceritanya simpel tapi dalam, tentang Ben dan Jody yang membuka kedai Filosi Kopi, ada satu hal yang kece di Kedai filosofi kopi, pertama setiap kopi punya card yang berisi filosofi. Dan kedua ne kedai antimainstream soalnya berani ga pasang Wifi, walaupun nanti dipertengahan film soal wifi ini menjadi salah satu masalah.

Hingga pada suatu hari seorang pengusaha menantang Ben untuk menghasilkan kopi terenak dengan imbalan milyaran rupiah, tantangan itu membawa Ben, Jody dan El kesebuah perjalanan, yang merubah cara pandang mereka bertiga, udah segitu aja ya spoilernya, sisanya tonton aja.

Aroma yang gue rasakan saat nonton film ini pertama kesel, lucu dan drama yang semua bercampur aduk menjadi apik, walaupun antara lucu dan drama menyayatnya terlalu cepet sehingga perasaan gue kaya dipaksa bercampur aduk hahahaa.

Menurut Gue entah kenapa pas ngeliat bapa aslinya jodi Gue langsung keingetan Maddog versi ayah.

Yang gue suka dari bagian film ini yaitu hubungan antara Jody  dan Ben, mereka sahabatan lama, punya tujuan sama cuma beda cara melakukannya. Ben tipe orang idealis dan punya cita rasa dan obsesi yang kuat. Sedangkan Jody seorang enterpreneur yang bagaimana kedai bisa bertahan secara financial diantara gempuran harga kopi yang semakin tinggi plua diantara lilitan hutang. mereka seperti otak dan hati tak sejalan tapi bisa saling mengerti dan tak bisa berjalan sendiri sendiri.

Kabar terbaru film FILOSOFI KOPI MOVIE ini ikut festival Internasional, Gue lupa apa namanya, yang pasti sukses terus buat film film berkualitas Indonesia.


Posted via Blogaway

8 comments:

  1. ada link download gratisan ga wkwk ,
    Mint atuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo, Kak! Yuk, ikutan Lomba Blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure".

      Tiga blogger terbaik akan diajak menjelajah Kalimantan dan berkesempatan mendapatkan grand prize, Macbook Pro.
      Info selengkapnya: http://log.viva.co.id/terios7wonders2015

      Jangan sampai ketinggalan, ya!

      Delete
  2. siapapun kaum migran pasti suka kopi...ngopi euy

    ReplyDelete
  3. aku orang yang kalo nonton pilm indonesia pulangnya nyesel, jadi belum juga nonton pilm ini hihi

    ReplyDelete
  4. aku orang yang kalo nonton pilm indonesia pulangnya nyesel, jadi belum juga nonton pilm ini hihi

    ReplyDelete
  5. Fix penasaran banget
    udah sempat coba baca bukunya tapi tetap penasaran sama filmnya

    Kapan ya bisa nonton :(

    ReplyDelete
  6. kalau gw mau nulis film filosofi teh gunung satria kawalah?
    kisahnya pengusaha kolot yang gak mau berekpansi bisnis padahal banyak turis orang perantauan cari produknya di luar daerah.

    ReplyDelete

biasakan budaya komentar
thnks